Bogor, Jawa Barat – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, akan mengalami musim kemarau 2026 yang lebih panjang dan cenderung lebih kering dari biasanya. Namun, kondisi berbeda justru terjadi di wilayah Bogor yang diperkirakan tetap sering diguyur hujan.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun 2026 akan mulai berlangsung secara bertahap sejak April hingga Juni di berbagai wilayah Indonesia. Puncak kemarau diperkirakan terjadi sekitar Agustus 2026, dengan curah hujan yang lebih rendah dari rata-rata klimatologis.
Di Jawa Barat sendiri, sebagian besar wilayah seperti Bandung, Cirebon, Sukabumi, hingga Tasikmalaya diprediksi mengalami kemarau lebih kering dan panjang. Bahkan sekitar 93 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan menerima curah hujan di bawah normal selama musim kemarau tahun ini.
Namun, fenomena unik terjadi di Bogor. BMKG menyebutkan bahwa wilayah yang dikenal sebagai “Kota Hujan” ini berpotensi tetap mengalami hujan dengan intensitas cukup tinggi meskipun daerah lain mengalami kekeringan.
Perbedaan kondisi ini menunjukkan bahwa pola musim di Indonesia tidak terjadi secara serentak dan bisa bervariasi antarwilayah. BMKG menjelaskan bahwa faktor geografis dan dinamika atmosfer turut memengaruhi perbedaan curah hujan di setiap daerah.
BMKG juga menegaskan bahwa meskipun kemarau 2026 diprediksi lebih kering dari biasanya, kondisi tersebut bukanlah yang terparah dalam 30 tahun terakhir. Namun demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait potensi kekeringan dan ketersediaan air bersih di wilayah yang terdampak.
Dengan adanya perbedaan kondisi ini, masyarakat di Bogor diminta tetap waspada terhadap potensi hujan, sementara daerah lain di Jawa Barat diharapkan mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.
