JAKARTA, 23 April 2026 – Hari ini, masyarakat dunia kembali merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia (World Book Day). Di tengah dominasi konten audiovisual dan kecerdasan buatan yang kian masif, peringatan tahun ini membawa misi krusial: mengembalikan buku sebagai fondasi literasi dan jendela imajinasi yang tak tergantikan.
Literasi Sebagai Ketahanan Bangsa
Buku bukan sekadar kumpulan kertas, melainkan instrumen vital dalam membentuk daya kritis masyarakat. Di Indonesia, tantangan literasi tetap menjadi fokus utama. Peringatan tahun ini menekankan bahwa membaca bukan hanya tentang kemampuan mengeja, melainkan kemampuan untuk menyaring informasi di era hoaks.
“Buku adalah teknologi paling canggih yang pernah diciptakan manusia untuk merekam gagasan. Membaca buku secara mendalam (deep reading) adalah kunci untuk menjaga kesehatan kognitif kita di era informasi yang serba instan,” ujar Afifah, pemerhati literasi.

Inisiatif Digital dan Aksesibilitas
Meskipun tantangan semakin berat, tren membaca mulai bergeser ke arah yang positif melalui komunitas literasi digital. Beberapa poin penting dalam perkembangan literasi tahun ini meliputi:
- Lonjakan Buku Digital (E-book): Peningkatan akses terhadap perpustakaan digital nasional yang memudahkan masyarakat di pelosok daerah.
- Kebangkitan Toko Buku Independen: Munculnya ruang-ruang baca komunal yang menjadi titik temu kreatif generasi muda.
- Perlindungan Hak Cipta: Penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pembajakan buku digital guna mengapresiasi kesejahteraan para penulis.
Merayakan dengan Aksi Nyata
Masyarakat diajak untuk merayakan hari ini dengan cara yang sederhana namun berdampak:
- Membaca minimal 15 menit hari ini tanpa gangguan gawai.
- Mendonasikan buku layak baca ke taman bacaan masyarakat (TBM).
- Mendukung penulis lokal dengan membeli buku asli (bukan bajakan).
Perayaan Hari Buku Sedunia yang jatuh setiap tanggal 23 April ini juga bertepatan dengan penghormatan bagi para sastrawan besar dunia seperti William Shakespeare dan Miguel de Cervantes yang wafat pada tanggal yang sama.
Melalui momentum ini, mari kita jadikan membaca sebagai gaya hidup, bukan sekadar kewajiban formal, demi masa depan bangsa yang lebih cerdas dan berbudaya.
