JAKARTA, 23 April 2026 – Setiap tanggal 23 April, dunia bersatu untuk merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa tanggal ini dipilih bukan tanpa alasan. Tanggal ini merupakan momentum untuk memberikan penghormatan abadi kepada salah satu penulis paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia: William Shakespeare.
Simbol Literasi Global
William Shakespeare, yang wafat pada 23 April 1616, telah menjadi ruh bagi sastra dunia selama lebih dari empat abad. UNESCO menetapkan tanggal wafatnya (yang juga diyakini sebagai tanggal lahirnya) sebagai Hari Buku Sedunia untuk mempromosikan kenikmatan membaca, penerbitan, dan perlindungan hak cipta di seluruh dunia.
“Shakespeare bukan hanya milik Inggris, ia milik dunia. Karya-karyanya melampaui batas bahasa dan zaman, menjadikannya simbol paling tepat untuk merayakan kekuatan kata-kata,” tulis redaksi [Farhan Ramadhan].

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Mengapa sosok Shakespeare tetap relevan di era digital 2026? Berikut adalah beberapa alasan mengapa profilnya selalu dikaitkan dengan standar literasi global:
- Pencipta Kosakata Baru: Shakespeare diyakini telah memperkenalkan lebih dari 1.700 kata ke dalam bahasa Inggris yang kita gunakan saat ini, mulai dari kata lonely hingga fashionable.
- Eksplorasi Psikologi Manusia: Melalui karya legendaris seperti Hamlet, Macbeth, dan Romeo and Juliet, ia membedah ambisi, cinta, dan pengkhianatan dengan kedalaman yang masih dipelajari oleh para psikolog modern.
- Inovasi Struktur Sastra: Penggunaan iambic pentameter dan bentuk sonata-nya menjadi standar baku dalam penulisan kreatif selama berabad-abad.
Relevansi di Era Kecerdasan Buatan
Di tengah maraknya konten yang dihasilkan oleh AI, memperingati Shakespeare pada Hari Buku Sedunia adalah sebuah pengingat tentang “Originalitas Manusia”. Meskipun teknologi dapat meniru gaya penulisan, orisinalitas emosi dan konteks sosial yang dibawa Shakespeare tetap menjadi tolok ukur keaslian sebuah karya sastra.
Cara Merayakan Warisan Sang Pujangga
Dalam rangka Hari Buku Sedunia, para pencinta literasi diajak untuk kembali menyelami karya-karya klasik:
- Membaca Ulang Soneta: Menikmati keindahan rima yang membangun fondasi puisi modern.
- Menonton Adaptasi Teater: Menghargai seni pertunjukan yang menjadi media utama Shakespeare dalam menyampaikan pesannya.
- Diskusi Literasi: Mengadakan bedah buku atau diskusi daring mengenai pengaruh sastra klasik terhadap budaya populer saat ini.
Peringatan hari ini adalah ajakan bagi kita semua untuk tidak hanya membaca, tetapi juga menghargai setiap tetes tinta dan pemikiran yang dituangkan para penulis ke dalam lembaran buku sebagaimana Shakespeare telah memberikan hidupnya untuk literasi.
