JAKARTA, 29 April 2026 – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang selama ini dikenal sebagai “jangkar” Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengalami tekanan jual hebat dalam sepekan terakhir. Pada perdagangan hari ini, harga saham BBCA sempat menyentuh level psikologis Rp5.950 – Rp6.025 per lembar saham.
Penurunan drastis ini mengejutkan pasar karena nilai tersebut setara dengan level harga BBCA pada April 2019 (disesuaikan setelah stock split 1:5 pada 2021), yang berarti seluruh pertumbuhan harga modal (capital gain) selama tujuh tahun terakhir telah terkikis habis oleh aksi jual masif ini.
Pemicu Utama Kejatuhan
Analisis pasar menunjukkan bahwa kejatuhan ini bukan disebabkan oleh kinerja internal perusahaan yang memburuk, melainkan kombinasi faktor makroekonomi yang ekstrem:
- Sentimen Global & Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global.
- Tekanan Nilai Tukar: Rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.300 per dolar AS, memicu aliran modal keluar (capital outflow) besar-besaran dari pasar modal Indonesia.
- Aksi Jual Asing: Tercatat investor asing melakukan net sell (jual bersih) hingga triliunan rupiah dalam hitungan hari pada saham-saham perbankan big caps.
Respons Manajemen: Sinyal Buyback
Menanggapi volatilitas yang tidak wajar ini, Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, memberikan sinyal bahwa perseroan siap melakukan langkah stabilisasi.
“Kami memantau dengan saksama perkembangan pasar saat ini. Sebagaimana telah disetujui dalam RUPST 12 Maret lalu, perseroan memiliki mandat untuk melakukan aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal Rp5 triliun,” ujar manajemen dalam keterangan singkatnya.
Pandangan Analis
Para analis menilai bahwa secara fundamental, BBCA masih sangat solid dengan pertumbuhan dana murah (CASA) yang terjaga. Namun, kenaikan Market Risk Premium di tahun 2026 membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
“Ini adalah fenomena panic selling sektoral. BBCA ibarat jantung ekonomi Indonesia; jika makro terguncang, dialah yang pertama kali bereaksi. Harga saat ini secara teknikal sudah masuk area oversold yang sangat ekstrem,” ungkap Jonathan Gunawan, Analis Trimegah Sekuritas.
