IHSG Per 03 Agustus 2026
JAKARTA — Pasar keuangan domestik menunjukkan respons yang bervariasi menyusul dipublikasikannya data makroekonomi terbaru mengenai laju inflasi dan aktivitas manufaktur Indonesia pada Juli 2026. Di tengah penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terpantau melemah tipis.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (3/8/2026) sesi pertama, IHSG ditutup terkoreksi tipis 0,03% di level 6.234,29. Sepanjang sesi pagi, pergerakan indeks berada di rentang 6.213,35 hingga 6.273,33. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, tercatat 333 saham menguat, 315 saham melemah, dan 315 saham lainnya stagnan.
Koreksi di pasar saham terutama ditekan oleh lesunya kinerja saham-saham perbankan kakap. Sejumlah emiten bank pelat merah dan swasta utama mengalami tekanan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang merosot 0,99% ke posisi Rp3.010, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 0,79% ke Rp6.275, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terkikis 0,72% menjadi Rp4.160, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang melemah tipis 0,28% ke level Rp3.520.
Kendati demikian, beberapa emiten justru sukses mencatatkan lonjakan harga yang signifikan. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) memimpin penguatan usai melonjak 15,11% ke level Rp1.790, diikuti oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) yang naik 5,59% ke Rp945, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang menguat 3,66% ke posisi Rp4.250.
Berbeda dengan bursa saham, pasar valuta asing justru menunjukkan tren positif. Data RTI Infokom mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp17.984 per dolar AS, menguat 0,10%. Sepanjang hari ini, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp18.050 hingga Rp17.960 per dolar AS, sekaligus mencatatkan akumulasi penguatan sebesar 0,55% dalam sepekan terakhir.
Kinerja Manufaktur Bangkit dan Inflasi Melandai Dinamika pasar ini tidak terlepas dari rilis data ekonomi domestik terbaru. Laporan S&P Global menunjukkan bahwa Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur Indonesia bangkit ke level 50,2 pada Juli 2026, membaik dari catatan bulan sebelumnya yang berada di angka 46,9.
Capaian di atas ambang batas 50 ini menandai kembalinya sektor manufaktur ke fase ekspansi pada awal kuartal III/2026. Pemulihan tersebut didorong oleh kembali tumbuhnya volume produksi setelah sempat mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut, kendati laju kenaikannya masih terbilang moderat.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menjelaskan bahwa peningkatan volume produksi ditopang oleh mulai stabilnya perolehan pesanan baru serta pulihnya kepercayaan konsumen. Kendati demikian, ia mencatat bahwa tekanan dari kenaikan harga bahan baku masih menjadi tantangan yang menahan laju ekspansi lebih lanjut.
Dari sisi harga, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) pada Juli 2026 berada di level 2,88%. Angka ini mengalami pelenduran yang signifikan dibandingkan posisi Juni 2026 yang sempat menyentuh 3,3% (YoY). Secara tahunan, kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) bergeser dari 108,60 pada Juli tahun lalu menjadi 111,73 pada bulan ini.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tahunan tertinggi, yakni mencapai 9,04% dengan andil inflasi sebesar 0,61%. “Lonjakan pada kelompok ini terutama dipicu oleh pergerakan harga emas perhiasan,” pungkas Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).
