JAKARTA – Pukul 17.00 WIB. Langit mulai meredup, namun aspal ibu kota justru semakin membara. Bagi ribuan pekerja kantoran, ini adalah waktu krusial yang menentukan: apakah akan sampai di rumah saat makan malam, atau justru terjebak di antara deru mesin dan kepulan asap hingga larut malam.
Di tengah dilema tersebut, aplikasi ojek online (ojol) menjadi “senjata” utama. Namun, memesan ojol di jam sibuk (rush hour) kini bukan lagi sekadar urusan transportasi, melainkan sebuah pertaruhan strategi, kesabaran, dan isi dompet.
Drama “Gali Lubang Tutup Lubang” di Aplikasi
Fenomena high fare atau harga yang melonjak hingga dua kali lipat sudah menjadi rahasia umum. Bagi sebagian orang, membayar Rp40.000 untuk jarak yang biasanya hanya Rp15.000 adalah harga yang pantas demi menembus kemacetan yang tidak masuk akal.
Namun, masalah tidak berhenti di harga. Muncul fenomena “adu cepat” mendapatkan driver. Tak jarang, pengguna harus melakukan cancel berulang kali karena posisi driver yang terlalu jauh atau terjebak macet di arah sebaliknya.
“Kadang pesan ojol saat rush hour itu seperti judi. Sudah bayar mahal, nunggunya 20 menit, eh pas datang malah kehujanan. Tapi kalau naik mobil, bisa dua jam lebih di jalan,” ujar salah satu pengguna setia ojol di kawasan Sudirman.
Dilema di Sisi Driver
Di sisi lain, para mitra pengemudi juga menghadapi buah simalakama. Meski tarif sedang tinggi, tenaga yang terkuras untuk menembus kemacetan parah seringkali tidak sebanding dengan insentif yang didapat. Belum lagi risiko keselamatan dan kondisi mesin kendaraan yang dipaksa bekerja ekstra dalam suhu panas.
Solusi atau Malah Menambah Beban?
Beberapa pengamat transportasi mulai mempertanyakan apakah mengandalkan ojol saat puncak kemacetan adalah langkah yang efisien. Pasalnya, volume motor yang luar biasa banyak justru seringkali menjadi salah satu penyebab kemacetan itu sendiri di titik-titik penjemputan seperti stasiun dan lobi mal. Bagaimana menurut Anda?
