Diskusi Publik yang diadakan HMI Komisariat Universitas Terbuka Jakarta
JAKARTA – Perubahan zaman dan pesatnya disrupsi teknologi menuntut mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mengambil peran sebagai arsitek perubahan. Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Terbuka (UT) Jakarta menggelar Diskusi Publik bertajuk “Mempersiapkan Mahasiswa Universitas Terbuka Jakarta sebagai Agen Perubahan dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan: Penguatan Kompetensi, Kepemimpinan, dan Kepedulian Sosial Menuju Indonesia Emas 2045”.
Forum dialektika ini menghadirkan refleksi kritis serta solusi praktis dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang adaptif, berintegritas, dan berdaya saing global.
1. Teknologi Harus Dikuasai, Bukan Menguasai
Bung Moch Firmansyah Prawita menekankan bahwa literasi digital kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar. Mahasiswa dituntut mampu menjadikan teknologi sebagai alat produktivitas dan inovasi.
“Kunci utamanya adalah adaptif. Mereka yang bertahan di era disrupsi bukanlah yang paling kuat atau cerdas, melainkan yang paling cepat menyesuaikan diri. Di sisi lain, organisasi seperti HMI hadir sebagai laboratorium kehidupan untuk mengasah kepemimpinan, soft skills, dan manajemen waktu agar mahasiswa tetap seimbang di tengah kesibukan,” ungkap Firmansyah.
2. Berpikir Kritis: Modal Utama Hadapi Bonus Demografi
Senada dengan hal tersebut, Virgianto, S.E., S.Sos., M.Pd. menyoroti risiko kemunduran daya nalar jika mahasiswa terlalu bergantung pada kemudahan teknologi secara instan. Menghadapi momentum Bonus Demografi, kapasitas berpikir kritis dan analitis menjadi kunci agar potensi modal manusia ini tidak berubah menjadi beban sosial.
“Bangsa yang maju bukanlah sekadar pasar bagi produk asing, melainkan bangsa yang mampu mencipta dan berinovasi. Tradisi intelektual HMI sejak 1947 terus dipertahankan melalui sistem kaderisasi berjenjang untuk mencetak insan akademis dan pencipta yang bertanggung jawab atas kemajuan peradaban,” tegas Virgianto.
3. Pemanfaatan Media Sosial untuk Nilai Tambah Ekonomi
Perspektif aplikatif disampaikan oleh Tedi Kurnia, S.E., M.M., Ketua KPU Kota Jakarta Timur. Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan platform digital seperti TikTok untuk menangkap peluang ekonomi baru dan edukasi publik melalui pembuatan konten yang konsisten dan relevan.
“Tidak ada kesuksesan yang instan, kecuali mie instan,” kelakar Tedi. “Konsistensi dan kesabaran dalam berproses adalah fondasi. Namun yang terpenting, perkuat jati diri dan integritas terlebih dahulu, sebab teknologi hanya akan memperbesar karakter yang sudah ada di dalam diri kita.”
4. Soroti Pemerataan Infrastruktur Digital Pendidikan
Sesi diskusi juga menyoroti peran strategis Universitas Terbuka (UT) dalam demokratisasi pendidikan tinggi di Indonesia melalui sistem pembelajaran jarak jauh (distance learning). Meski UT berhasil membuka akses pendidikan tinggi secara fleksibel dan terjangkau, tantangan seperti ketimpangan akses internet di berbagai daerah masih menjadi hambatan serius.
Forum mendorong pemerintah untuk mempercepat pemerataan infrastruktur digital hingga ke pelosok negeri. Akses internet di era modern dinilai sebagai bagian dari hak keadilan sosial untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Penutup
Diskusi publik HMI UT Jakarta menyimpulkan bahwa menyongsong Indonesia Emas 2045 bukan sekadar merayakan usia satu abad kemerdekaan, melainkan tentang kesiapan mencetak generasi yang kritis, adaptif, berkarakter, dan berdaya cipta. Masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang berani berproses dan mengambil tanggung jawab sebagai penggerak perubahan.
Tentang HMI Komisariat Universitas Terbuka Jakarta: HMI Komisariat UT Jakarta adalah organisasi mahasiswa yang berkomitmen membangun tradisi intelektual, kepemimpinan, serta pengabdian masyarakat guna melahirkan kader-kader akademis dan profesional yang siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
