Layar update informasi santri Ponpes Manbaul Hikam yang keracunan MBG di Sidoarjo
SIDOARJO — Insiden keracunan massal yang diduga bersumber dari menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencoreng jalannya uji coba program nasional tersebut. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun pada Rabu, 2 September 2026, jumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam yang mengalami gejala keracunan di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, melonjak tajam hingga menyentuh angka 500 orang.
Lonjakan signifikan ini memaksa koordinasi lintas fasilitas kesehatan di Kabupaten Sidoarjo bergerak cepat. Para korban yang terdiri dari para remaja santri tersebut terpaksa dilarikan ke delapan rumah sakit berbeda guna mendapatkan penanganan medis darurat. Gejala awal yang dirasakan para korban umumnya meliputi mual, muntah, pusing, hingga kram perut akut beberapa jam seusai menyantap paket makanan program MBG yang didistribusikan ke lingkungan pesantren.
Meskipun skala insiden ini tergolong besar, sebagian besar korban dilaporkan menunjukkan pemulihan yang cukup cepat berkat respons sigap tenaga medis setempat. Data terkini dari posko penanganan medis mencatat bahwa dari total 500 santri yang sempat mendapatkan perawatan, sebanyak 320 orang kini telah dinyatakan pulih dan diperbolehkan kembali ke pondok pesantren atau pulang ke kediaman masing-masing (keluar rumah sakit atau KRS).
Kendati demikian, proses pemantauan kesehatan secara ketat masih harus terus diberlakukan bagi sebagian santri lainnya. Tercatat masih ada 65 pasien yang harus menjalani rawat inap intensif (masuk rumah sakit atau MRS) di ruang perawatan khusus, sementara 115 pasien sisa lainnya masih tertahan di instalasi gawat darurat dan ruang transit untuk menjalani observasi lanjutan guna mencegah terjadinya komplikasi.
Pusat rujukan utama penanganan kasus ini terkonsentrasi di RSUD Notopuro Sidoarjo. Rumah sakit pelat merah milik pemerintah daerah tersebut menjadi titik terberat beban penanganan dengan menampung hingga 334 santri. Dari total pasien di RSUD Notopuro, sebanyak 239 orang telah diizinkan pulang karena kondisi mereka membaik, 92 santri masih dalam tahap observasi ketat, dan 3 pasien lainnya harus menjalani opname di ruang rawat inap akibat kondisi fisik yang masih lemah.
Selain RSUD Notopuro, tujuh rumah sakit swasta dan fasilitas kesehatan di sekitar Sidoarjo turut berjibaku menangani gelombang pasien santri ini. Rincian sebaran penanganan medis di berbagai rumah sakit tersebut meliputi:
- RS Siti Hajar: Menangani total 74 pasien, dengan rincian 29 pasien rawat inap, 40 pasien telah dipulangkan, dan 5 pasien masih dalam observasi.
- RSU Aisyiyah Siti Fatimah: Merawat 47 pasien, yang terdiri atas 8 pasien rawat inap serta 39 pasien yang sudah diperbolehkan pulang.
- RS Delta Surya: Menampung 20 pasien, dengan komposisi 15 pasien opname, 1 pasien pulang, dan 4 pasien dalam status observasi.
- RS Pusura: Merawat 13 pasien yang seluruhnya ditempatkan di ruang observasi medis.
- RS Pusdik Bhayangkara Porong: Menampung 8 pasien, di mana seluruhnya memerlukan perawatan intensif di ruang rawat inap.
- RS Arafah Anwar Medika: Menangani 3 pasien, dengan rincian 2 pasien rawat inap dan 1 pasien sudah dipulangkan.
- RS Anwar Medika: Merawat 1 pasien yang hingga kini masih berada dalam pengawasan dan observasi intensif dokter jaga.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Porong, Zaid, memberikan konfirmasi terkait kondisi para santri yang dirujuk ke fasilitas kesehatan yang dipimpinnya. Menurutnya, tingkat keparahan gejala yang dialami oleh delapan santri yang dirujuk ke RS Bhayangkara cukup serius sehingga penanganan di ruang rawat inap tidak bisa ditawar lagi.
“Sampai pagi ini masih ada 8 santri yang menjalani rawat inap,” ungkap Zaid saat memberikan keterangan resmi mengenai perkembangan penanganan korban di fasilitas kesehatannya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang bersama instansi kesehatan terkait di Sidoarjo masih mendalami sampel makanan yang dikonsumsi oleh para santri guna memastikan zat pemicu keracunan tersebut. Kasus ini menambah daftar panjang evaluasi penting terhadap standar kebersihan, rantai pasok, serta sistem pengawasan mutu dalam distribusi makanan pada program Makan Bergizi Gratis agar insiden serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.
