Ultimate Beneficiary Owner dari Adaro Grup, Garibaldi Thohir
BidikMassa – Lantai bursa domestik diguncang oleh gelombang aksi jual masif pada perdagangan saham emiten energi di bawah kendali konglomerat Boy Thohir. Pergerakan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) kompak terjerembab di zona merah setelah tersandung pusaran investigasi dugaan korupsi dan rekayasa perpajakan yang tengah diusut oleh aparat penegak hukum.
Sentimen negatif ini langsung mencengkeram psikologis para pelaku pasar sejak bel pembukaan bursa pagi hari ditransaksikan. Tekanan terhadap harga saham tersebut merespons secara langsung perkembangan terkini penanganan perkara rasuah di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin. Para investor di pasar modal bereaksi cepat atas potensi risiko hukum, ancaman denda korporasi, serta ketidakpastian tata kelola yang membayangi prospek bisnis korporasi raksasa batu bara tersebut dalam jangka pendek maupun panjang.
Tekanan Jual Hantam Emiten Energi Grup Adaro
Sesi perdagangan pagi langsung dibuka dengan sentimen negatif yang dalam dan seketika mengubah arah tren harga saham. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) terkoreksi sejak awal pembukaan ke level Rp2.760 per saham atau turun 20 poin. Kepanikan investor kian memuncak menjelang tengah hari, di mana pelemahan semakin melebar hingga kehilangan 90 poin atau setara dengan penurunan 3,24% ke posisi Rp2.690 per saham.
Aktivitas transaksi pada saham ADRO melonjak tinggi seiring kepanikan pelaku pasar yang berbondong-bondong ingin mengamankan portofolio mereka. Tercatat sebanyak 13.890 kali transaksi telah dieksekusi oleh investor dengan volume mencapai 38,88 juta lembar saham. Total nilai transaksi yang dibukukan emiten tersebut menyentuh angka jumbo sebesar Rp105,3 miliar, mencerminkan likuiditas yang sangat tinggi sekaligus kekhawatiran akut investor publik terhadap keberlangsungan operasional perusahaan ke depan.
Nasib serupa turut dialami oleh saudaranya satu grup, yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Saham AADI mencatatkan kejatuhan nominal sebesar 175 poin atau merosot 1,61% ke level Rp10.700 per saham. Meskipun persentase penurunannya tampak lebih tipis dibanding ADRO, nilai transaksi perdagangan AADI tetap masif di angka Rp98,4 miliar dari 9,22 juta saham yang berpindah tangan melalui 7.713 kali frekuensi transaksi di lantai bursa.
Babak Baru Penyidikan KPK di Kalimantan Selatan
Sentimen negatif di pasar modal ini tidak terlepas dari langkah progresif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tengah membongkar dugaan praktik suap perpajakan di wilayah Kalimantan Selatan. Penyelidikan mendalam tersebut secara mengejutkan menyeret sejumlah nama penting di dalam struktur perusahaan energi berskala besar itu, memicu spekulasi luas di kalangan pengamat pasar keuangan.
Sebelumnya, penyidik lembaga antirasuah telah memanggil dan memeriksa mantan Kepala Divisi Pajak ADRO, Jul Seventa Tarigan, pada 19 Agustus 2026. Pemeriksaan intensif tersebut difokuskan untuk mengonfirmasi adanya indikasi aliran dana haram atau suap kepada oknum pemeriksa pajak guna memanipulasi beban kewajiban fiskal perusahaan agar tampak lebih ringan dari kewajiban riilnya.
Langkah hukum berlanjut dengan penggeledahan maraton di delapan lokasi strategis yang tersebar di wilayah Banjarmasin dan Banjarbaru sepanjang rentang 26 hingga 28 Agustus 2026. Dari penggeledahan tersebut, tim penyidik berhasil mengamankan setumpuk dokumen penting, arsip keuangan, dan catatan elektronik yang diyakini memuat petunjuk krusial terkait konstruksi tindak pidana korupsi pajak yang sedang disidik secara intensif.
“Dokumen-dokumen yang kami temukan di lapangan saat ini sedang dalam tahap telaah mendalam guna melihat benang merahnya dengan konstruksi perkara yang sedang dibangun. Kami juga akan mengonfirmasi temuan tersebut secara langsung kepada pihak-pihak yang dinilai paling mengetahui jalannya perkara ini,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo.
Bayang-Bayang Rekam Jejak dan Sikap Korporasi
Kasus hukum yang mencuat di tengah tahun fiskal ini kembali membuka memori publik pada berbagai sorotan miring terhadap tata kelola perusahaan di masa lampau. Pada 2019 silam, lembaga investigasi internasional Global Witness sempat melansir laporan komprehensif yang menyoroti dugaan praktik penghindaran pajak agresif oleh grup Adaro melalui jaringan anak usahanya di yurisdiksi Singapura. Kendati demikian, manajemen ADRO pada masa itu dengan tegas membantah seluruh tudingan tersebut dan menyatakan bahwa seluruh operasional perusahaan selalu mematuhi regulasi hukum yang berlaku.
Hingga laporan ini diturunkan, situasi di internal korporasi terpantau masih tertutup rapat. Belum ada pernyataan resmi maupun klarifikasi terbuka yang disampaikan oleh jajaran manajemen PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) maupun PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) terkait anjloknya harga saham serta perkembangan penyidikan di KPK. Para pemegang saham kini masih menanti langkah taktis manajemen untuk memulihkan kepercayaan publik di lantai bursa.
