Penulis merupakan Direktur Bidikmassa.com, Datuk Abd Karim Wailiisa
OPINI – Ketika pemerintah menyampaikan bahwa daya beli masyarakat Indonesia dalam kondisi aman dan konsumsi rumah tangga tetap tumbuh di atas 5%, narasi tersebut didasarkan pada data statistik makro yang valid dari Badan Pusat Statistik (BPS). Namun, jika kita menyelami lebih dalam data BPS yang sama, ditemukan gambaran yang jauh lebih kompleks: populasi kelas menengah kita justru sedang menyusut secara perlahan, dan sebagian besarnya bergeser ke kelompok calon kelas menengah yang rentan atau aspiring middle class.
Dua Kacamata dalam Memandang Ekonomi Nasional
Untuk memahami mengapa timbul perbedaan antara penjelasan resmi dan apa yang dirasakan masyarakat di lapangan, kita perlu melihat adanya dua cara pandang yang berbeda dalam membaca data ekonomi.

1. Kacamata Total Nilai Ekonomi (Perspektif Makro)
Perspektif ini melihat perekonomian sebagai satu wadah besar. Selama total uang yang berputar dan dibelanjakan di dalam wadah tersebut terus bertambah setiap tahunnya, maka secara statistik ekonomi dinyatakan tumbuh. Dalam kacamata ini, pengeluaran untuk rekreasi, pariwisata, hotel, restoran, dan transaksi digital yang melonjak menjadi bukti utama bahwa aktivitas ekonomi masyarakat masih sangat hidup.
2. Kacamata Penyebaran dan Kemampuan (Perspektif Distribusi)
Perspektif ini tidak hanya melihat berapa total uang yang berputar, tetapi juga bertanya siapa yang membelanjakannya dan bagaimana kondisi keuangan sebagian besar penduduk. Di sinilah kita menemukan kenyataan bahwa meskipun total belanja secara nasional meningkat, jumlah orang yang memiliki kemampuan belanja yang stabil justru berkurang.
Ilusi Angka Rata-Rata dan Realita Kelas Menengah
Satu hal yang sering membuat data statistik terasa tidak pas dengan kehidupan sehari-hari adalah penggunaan angka rata-rata. Dalam perekonomian, angka rata-rata bisa menyembunyikan ketimpangan yang nyata.

Jika kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi meningkatkan belanja mereka secara signifikan misalnya untuk liburan, membeli barang bergaya hidup, atau berinvestasi, total nilai belanja nasional akan terdorong naik dengan kuat. Kenaikan dari kelompok atas ini menutup penurunan atau stagnasi belanja pada kelompok masyarakat menengah dan bawah.
Akibatnya, angka rata-rata nasional terlihat bagus, padahal mayoritas masyarakat sedang berjuang mengatur anggaran harian mereka agar cukup.
Fenomena Pergeseran Kelas Ekonomi
Data Susenas dari BPS membagi masyarakat ke dalam beberapa lapisan berdasarkan tingkat pengeluaran bulanan mereka. Jika kita cermati perkembangannya, terlihat pola pergerakan populasi yang menjadi kunci persoalan daya beli saat ini:
- Kelompok Atas (Sekitar 1–2%): Memiliki kemampuan finansial yang sangat kuat, tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga bahan pokok, dan menjadi penopang utama pertumbuhan sektor rekreasi serta barang sekunder.
- Kelas Menengah Murni (Menyusut menjadi sekitar 17–18%): Kelompok yang sebelumnya memiliki penghasilan stabil, mampu menabung, dan membeli barang-barang tahan lama. Jumlah kelompok ini mengalami penurunan karena sebagian anggotanya terdorong turun kelas.
- Calon Kelas Menengah / Aspiring Middle Class (Mencakup 45–50%): Kelompok terbesar di Indonesia saat ini. Mereka sudah keluar dari kategori miskin, namun posisi keuangannya masih sangat tipis di atas garis kemiskinan.
- Kelompok Rentan dan Miskin (Sekitar 30%): Sangat bergantung pada bantuan sosial dan stabilitas harga bahan pangan pokok.
Pergeseran terbesar terjadi dari kelas menengah murni turun ke tingkat calon kelas menengah. Masyarakat di kelompok calon kelas menengah ini berada dalam posisi yang serba tanggung: mereka tidak tergolong miskin sehingga tidak menerima bantuan sosial dari pemerintah, tetapi penghasilan mereka juga tidak cukup besar untuk menahan guncangan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mengungkapkan adanya tren penurunan yang signifikan pascapandemi, dimana jutaan orang terdegradasi menjadi kelompok “Menuju kelas menengah” yang dimana secara ekonomi cukup rentan.
Mengapa Pengeluaran Gaya Hidup Tetap Ramai?
Salah satu argumen yang sering digunakan untuk menunjukkan daya beli masih kuat adalah ramainya pusat perbelanjaan, konser musik, tempat wisata, dan kafe-kafe di kota besar. Namun, ramainya tempat-tempat tersebut tidak serta-merta menggambarkan kesejahteraan yang merata.
Ada beberapa penjelasan di balik fenomena ini:
- Konsentrasi di Kota Besar: Keramaian yang kita lihat sehari-hari umumnya terpusat di kawasan perkotaan, tempat kelompok masyarakat berpenghasilan menengah-atas berkumpul. Ini tidak merepresentasikan kondisi di daerah lain atau di tingkat akar rumput.
- Perubahan Prioritas Belanja: Banyak keluarga muda saat ini mengubah pola pengeluaran mereka. Karena harga aset jangka panjang seperti rumah atau kendaraan semakin sulit dijangkau oleh tingkat kenaikan gaji harian, sebagian anggaran beralih ke konsumsi pengalaman jangka pendek yang memberikan kenyamanan instan, seperti kuliner atau rekreasi skala kecil.
- Tekanan pada Barang Sekunder: Meskipun belanja rekreasi terlihat aktif, penjualan barang-barang kebutuhan rumah tangga, pakaian harian, dan barang elektronik menengah justru menunjukkan kelesuan. Masyarakat menahan pembelian barang-barang ini agar uangnya cukup untuk kebutuhan pokok.
Akar Penyebab Tekanan Finansial Kelompok Menengah
Penyusutan jumlah kelas menengah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menekan keuangan mereka secara bersamaan.
A. Kualitas Lapangan Kerja
Jumlah pekerjaan formal yang menawarkan gaji tetap, jaminan kesehatan, dan kenaikan penghasilan berkala pertumbuhannya tidak secepat pertumbuhan angkatan kerja. Akibatnya, makin banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal atau pekerjaan harian. Pekerjaan jenis ini memiliki fleksibilitas tinggi, namun tingkat kepastian penghasilannya jauh lebih rendah.
B. Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Berdasarkan pola pengeluaran rumah tangga, semakin rendah tingkat penghasilan suatu keluarga, semakin besar persentase uang mereka yang habis hanya untuk membeli makanan. Ketika harga bahan pangan pokok meningkat, porsi uang yang tersisa untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, atau tabungan otomatis berkurang drastis.
C. Beban Pajak dan Biaya Hidup
Kelompok kelas menengah merupakan pembayar pajak yang patuh melalui pajak penghasilan dan pajak barang konsumsi. Di saat yang sama, mereka harus menanggung sendiri biaya pendidikan, kesehatan, dan transportasi karena tidak masuk dalam skema penerima bantuan pemerintah. Kombinasi antara kenaikan biaya hidup dan kewajiban fiskal ini menekan sisa penghasilan bersih yang bisa mereka belanjakan.
Perbandingan Perspektif Ekonomi
Untuk memperjelas perbedaan sudut pandang antara klaim pemerintah dan realita yang dialami masyarakat, tabel berikut merangkum poin-poin utamanya:
| Topik Evaluasi | Perspektif Makro Pemerintah | Realita Distribusi Masyarakat |
| Pertumbuhan Konsumsi | Tumbuh stabil di atas 5% secara akumulatif nasional. | Didorong dominan oleh belanja kelompok 20% teratas. |
| Sektor Penggerak | Sektor rekreasi, hotel, dan jasa digital naik pesat. | Sektor ritel pakaian, barang rumah tangga, dan elektronik lesu. |
| Kondisi Populasi | Angka kemiskinan ekstrem terus berhasil ditekan. | Jumlah kelas menengah murni berkurang, bergeser ke kelompok rentan. |
| Sifat Pengeluaran | Dianggap sebagai bukti daya beli masyarakat kuat. | Terjadi pengalihan dari tabungan jangka panjang ke kebutuhan instan. |
Langkah Perbaikan yang Diperlukan
Melihat kondisi ini, penyelesaian persoalan daya beli tidak cukup hanya dengan mengandalkan indikator pertumbuhan makro. Diperlukan langkah-langkah nyata untuk memperkuat posisi keuangan kelompok masyarakat menengah:
- Memperbanyak Lapangan Kerja Formal: Mendorong investasi pada industri pengolahan dan sektor padat karya yang mampu memberikan penghasilan stabil jangka panjang bagi pekerja.
- Menjaga Stabilitas Harga Pangan: Memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok agar sisa penghasilan masyarakat tidak habis seluruhnya untuk kebutuhan makan harian.
- Memperluas Jaring Pengaman Sosial: Menyediakan program perlindungan atau kemudahan biaya pendidikan dan kesehatan yang juga bisa diakses oleh kelompok calon kelas menengah agar mereka tidak gampang jatuh miskin saat menghadapi kesulitan ekonomi.
- Menyesuaikan Kebijakan Fiskal: Mempertimbangkan kemampuan belanja masyarakat sebelum menerapkan kebijakan perpajakan atau kenaikan penyesuaian tarif pelayanan publik baru.
Kesimpulan
Pernyataan bahwa daya beli masyarakat tidak melemah memiliki dasar jika dilihat dari total angka pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, penjelasan tersebut menjadi kurang lengkap karena tidak menggambarkan kondisi yang dirasakan oleh mayoritas masyarakat.
Di balik pertumbuhan angka makro tersebut, terdapat kenyataan bahwa populasi kelas menengah Indonesia sedang mengalami penurunan jumlah dan menghadapi tekanan biaya hidup yang nyata. Mengakui adanya tantangan ini adalah langkah awal yang sangat penting agar kebijakan ekonomi yang dirumuskan ke depan bisa lebih pas sasaran dan dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
