IHSG menguat di hari kamis 20-08-2026
JAKARTA – Pasar saham domestik mencatatkan performa gemilang pada perdagangan sesi pertama, Kamis (20/8/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menanjak 1,47% ke level 6.487, didorong oleh gelombang optimisme pada saham-saham sektor komoditas logam mulia.
Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG menunjukkan dominasi kuat di zona bullish. Indeks sempat menyentuh titik tertinggi di posisi 6.493 dengan rentang pergerakan harian yang stabil di kisaran 6.444 hingga 6.493.
Aktivitas perdagangan terpantau aktif dengan nilai transaksi mencapai Rp7,98 triliun. Sebanyak 22,46 miliar lembar saham berpindah tangan melalui 1,29 juta kali transaksi. Secara statistik, pasar berada dalam kondisi sangat positif dengan 417 saham menguat, sementara 187 saham terkoreksi dan 185 lainnya stagnan.
Dominasi Sektor Komoditas
Lonjakan IHSG hari ini disokong oleh kenaikan signifikan pada sektor barang baku (+3,58%), perindustrian (+1,81%), dan konsumen non-primer (+1,73%). Emiten yang bergerak di sektor emas menjadi primadona para investor.
Beberapa emiten emas yang mencatatkan performa top gainers antara lain:
- PSAB (J Resources Asia Pasifik): Melesat 17,92% ke level Rp625.
- BRMS (Bumi Resources Minerals): Menguat 9,61% ke posisi Rp685.
- ARCI (Archi Indonesia): Naik 8,84% ke Rp1.415.
- HRTA (Hartadinata Abadi): Tumbuh 8,75% menjadi Rp2.360.
- ANTM (Aneka Tambang): Menguat 3,63% ke Rp3.140.
Saham big caps dalam indeks LQ45 juga turut memberikan sentimen positif, seperti MBMA (+9,81%), AMMN (+7,74%), dan KLBF (+5,77%).
Sentimen Eksternal: Angin Segar dari Amerika Serikat
Penguatan sektor emas di pasar saham Indonesia tidak terlepas dari dinamika ekonomi Amerika Serikat yang memberikan sentimen positif bagi aset logam mulia global.
Penurunan yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi katalis utama. Departemen Keuangan AS baru-baru ini mengumumkan langkah strategis untuk melakukan buyback obligasi jangka panjang, yang berhasil menekan yield obligasi tenor 10 tahun turun 6 basis poin (bps) ke level 4,65%. Sebagai catatan, pada akhir Juli lalu, yield tersebut sempat menembus level tertinggi tahun 2026 di 4,74%.
Selain itu, pelemahan data penjualan ritel AS yang memicu penurunan nilai Dolar AS (DXY) semakin memperkuat daya tarik emas. Bagi investor, emas yang merupakan aset non-yielding menjadi jauh lebih menarik ketika imbal hasil obligasi menurun. Data ekonomi AS yang menunjukkan perlambatan juga meredakan kekhawatiran pasar terkait kebijakan suku bunga acuan bank sentral yang agresif, memberikan ruang napas bagi harga emas dan saham-saham terkait untuk terus mendaki.
