Calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat Fit and Proper Test di Gedung DPR RI
Jakarta — Proses seleksi kepemimpinan tertinggi di bank sentral Indonesia memasuki babak yang sangat krusial. Dalam uji kelayakan dan patut (fit and proper test) Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) yang berlangsung di Gedung DPR RI, Kamis (26/8/2026), Destry Damayanti memaparkan visi, misi, serta strategi besarnya untuk membawa institusi moneter ini semakin maju. Jika terpilih menakhodai Bank Indonesia ke depan, ia berkomitmen penuh untuk mengedepankan formulasi kebijakan yang terangkum dalam konsep “3I dan 1S”.
Formulasi strategis tersebut dirancang secara matang guna menjawab dinamika serta tantangan perekonomian nasional maupun global yang kian kompleks dari hari ke hari. Di tengah ketidakpastian pasar keuangan internasional dan risiko geopolitik, bank sentral dituntut untuk adaptif, responsif, dan memiliki arah kebijakan yang jauh lebih tajam.
Membedah Makna Konsep ‘3I dan 1S’
Dalam pemaparannya di hadapan para anggota dewan terhormat, Destry merinci makna filosofis di balik singkatan 3I dan 1S yang akan dijadikan fondasi utama arah kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinannya kelak:
- Impactful (Berdampak): Setiap bauran kebijakan moneter, makroprudensial, maupun sistem pembayaran yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia harus mampu memberikan dampak nyata, terukur, dan dirasakan langsung oleh sektor riil serta masyarakat luas.
- Inklusif: Kebijakan ekonomi tidak boleh eksklusif atau hanya dinikmati oleh segelintir pihak. Pertumbuhan ekonomi dan akses terhadap pembiayaan harus merata, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk memberdayakan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
- Integrasi: Penyelarasan berbagai instrumen kebijakan agar berjalan secara selaras, terpadu, dan saling mendukung satu sama lain, sehingga efektivitas kebijakan moneter dapat beresonansi secara maksimal dengan kebijakan fiskal pemerintah.
- Sinergi (1S): Faktor kunci sekaligus pengikat seluruh elemen pemangku kepentingan agar tujuan besar bangsa tercapai secara efektif dan efisien.
“Bagi kami, sinergi bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi tentang menyatukan kekuatan, saling melengkapi, dan melangkah seirama untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada yang dapat diraih kalau kita bekerja sendirian,” tegas Destry di hadapan Komisi XI DPR RI.
Menggagas “Sinergi Merah Putih” untuk Kesejahteraan Rakyat
Lebih lanjut, Destry memberikan penekanan khusus pada konsep Sinergi Merah Putih yang diusungnya. Konsep ini dinilai sangat mendesak dan relevan untuk diterapkan di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi perekonomian dunia. Mulai dari tekanan inflasi global, fragmentasi rantai pasok, hingga tingginya suku bunga acuan negara maju, semuanya memerlukan benteng pertahanan domestik yang kokoh.
Melalui slide presentasinya yang komprehensif, ia menunjukkan bahwa Sinergi Merah Putih hadir sebagai jawaban strategis untuk mengamankan stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya tahan tinggi. Ruang lingkup dari Sinergi Merah Putih ini dirinci ke dalam enam pilar pembangunan nasional yang saling berkaitan:
- Ketahanan Pangan dan Energi: Menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga komoditas utama demi meredam tekanan inflasi dari sisi suplai (supply shock).
- Ekonomi dan Lapangan Kerja: Membuka peluang investasi yang produktif guna menciptakan lapangan kerja baru yang seluas-luasnya bagi angkatan kerja muda.
- Sumber Daya Manusia (SDM): Meningkatkan produktivitas, kapasitas, dan kualitas tenaga kerja nasional agar mampu beradaptasi dengan era digital dan ekonomi modern.
- Hilirisasi dan Industrialisasi: Memaksimalkan nilai tambah komoditas pertambangan, pertanian, dan perkebunan di dalam negeri guna memperkuat struktur neraca pembayaran eksternal.
- Pembangunan Daerah: Mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa melalui optimalisasi potensi unggulan daerah masing-masing.
- Reformasi Politik, Hukum, dan Birokrasi: Menciptakan iklim investasi yang sehat, transparan, serta memberikan kepastian hukum yang kuat bagi para pelaku usaha lokal maupun asing.
Dengan memadukan pendekatan 3I serta penguatan Sinergi Merah Putih, Destry optimistis bahwa Bank Indonesia ke depan dapat berfungsi secara optimal sebagai jangkar stabilitas makroekonomi dan keuangan yang tangguh. Langkah komprehensif ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, melainkan juga mampu mengakselerasi tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia secara merata di masa depan.
