JAKARTA – Mata uang rupiah membuka perdagangan pekan ini dengan tren negatif. Berdasarkan data Refinitiv pada Senin (11/5/2026), rupiah melemah 0,06% ke posisi Rp17.370/US$. Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi dari penutupan Jumat pekan lalu yang berada di level Rp17.360/US$.
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dari penguatan dolar AS serta penantian pasar terhadap rilis data ekonomi domestik.
Gejolak Geopolitik Dongkrak Indeks Dolar
Indeks Dolar AS terpantau mengalami penguatan yang didorong oleh statusnya sebagai aset aman (safe haven) di tengah kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Konflik yang telah memasuki pekan ke-10 tersebut kian memanas setelah Presiden Donald Trump secara tegas menolak proposal perdamaian dari Teheran. Berikut adalah poin utama hambatan kesepakatan:
- Sikap AS: Trump melabeli respons Iran sebagai “totally unacceptable”.
- Tawaran Iran: Teheran bersedia mengalihkan stok uranium ke negara ketiga, namun tetap bersikeras mempertahankan infrastruktur nuklirnya.
- Dampak Pasar: Ketidakpastian global ini memicu investor untuk mengamankan aset mereka ke dalam dolar AS.
Menanti Rilis Data Keyakinan Konsumen RI
Dari sisi domestik, fokus pasar tertuju pada Bank Indonesia yang dijadwalkan merilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode April 2026 hari ini. Data ini sangat krusial karena konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
| Periode | Level IKK | Keterangan |
| Februari 2026 | 125,2 | Kondisi Stabil |
| Maret 2026 | 122,9 | Level terendah sejak Oktober 2025 |
| April 2026 (Proyeksi) | 122,0 | Estimasi Konsensus Pasar |
Penurunan IKK pada bulan sebelumnya dipicu oleh merosotnya indeks ekspektasi ekonomi dan pendapatan masyarakat. Jika realisasi IKK April sesuai dengan ekspektasi pasar yang kembali melemah, maka hal ini berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
