Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad berkomentar terkait Survei Elektabilitas Presiden
JAKARTA — Lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis temuan terbarunya terkait peta elektabilitas tokoh nasional jelang bursa calon presiden. Mengejutkannya, nama Gubernur Jawa Barat sekaligus kader Partai Gerindra, Dedi Mulyadi, melejit di posisi puncak dan mengungguli ketua umumnya sendiri, Presiden Prabowo Subianto.
Menanggapi hasil survei tersebut, Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menanggapinya dengan santai. Menurutnya, angka-angka yang ditunjukkan oleh lembaga survei adalah sesuatu yang sangat dinamis dan wajar terjadi dalam dunia politik.
“Ya, namanya survei kan pasti fluktuatif, kadang naik kadang turun,” ujar Dasco saat ditemui awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Wakil Ketua DPR RI itu juga menambahkan, perbedaan hasil antarlembaga survei merupakan hal yang lumrah karena setiap lembaga memiliki metodologi dan waktu pengambilan data yang beragam. “Survei yang satu dengan yang lain kan kadang sama, kadang juga berbeda,” imbuhnya.
Dominasi Dedi Mulyadi dalam Simulasi Semi Terbuka
Berdasarkan data SMRC per Juli 2026, dalam simulasi semi terbuka yang menyodorkan 20 nama tokoh, Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedi sukses memimpin perolehan suara dengan mengantongi dukungan sebesar 35 persen.
Ia berada jauh di atas Prabowo Subianto yang menempati peringkat kedua dengan elektabilitas 14,5 persen. Sementara itu, kursi ketiga dan keempat diisi oleh Anies Baswedan (8,2 persen) dan Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen).
Deretan tokoh lain yang turut masuk dalam jajaran bursa antara lain Agus Harimurti Yudhoyono (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), Mahfud MD (4 persen), Puan Maharani (1,3 persen), Sherly Tjoanda (1,2 persen), Purbaya Yudhi Sadewa (1,1 persen), hingga Surya Paloh (1 persen). Adapun responden yang belum menentukan pilihan atau enggan menjawab masih berada di angka 12,8 persen.
Tren Pergerakan: KDM Meroket, Prabowo Melandai
Jika ditarik garis tren dalam sembilan bulan terakhir, SMRC mencatat adanya kontras pergerakan dukungan yang signifikan antara Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto.
Elektabilitas Dedi Mulyadi tercatat konsisten menanjak. Pada November 2025, dukungannya berada di angka 19,7 persen, lalu naik ke 23,3 persen pada periode Februari–Maret 2026, hingga akhirnya melompat tajam ke angka 35 persen pada Juli 2026.
Sebaliknya, kurva elektabilitas Prabowo menunjukkan tren penurunan dalam rentang waktu yang sama. Sempat memegang 34,9 persen pada November 2025, angka tersebut bergeser tipis ke 33,3 persen pada awal tahun 2026, sebelum akhirnya terkoreksi ke 14,5 persen pada Juli 2026.
Sementara itu, tokoh lain seperti Anies Baswedan sempat mengalami kenaikan pada awal tahun sebelum kembali melandai ke 8,2 persen, dan Gibran Rakabuming menunjukkan tren kenaikan bertahap dari 5,1 persen, 6,8 persen, hingga menyentuh 7,7 persen pada survei terbaru.
Keunggulan Telak Head-to-Head
Tidak hanya dalam simulasi banyak nama, SMRC juga membedah peta kekuatan melalui simulasi head-to-head (dua nama) antara Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto.
Hasilnya, Dedi Mulyadi tampil sebagai pemuncak dengan raihan 59 persen suara, meninggalkan Prabowo yang mendulang 28,3 persen. Sisa 12,7 persen responden menyatakan tidak tahu atau memilih bungkam.
Dalam kurun waktu empat bulan terakhir untuk simulasi head-to-head ini, elektabilitas Prabowo tercatat mengalami koreksi dari 50,5 persen (Februari–Maret 2026) menjadi 28,3 persen. Sebaliknya, dukungan untuk Dedi Mulyadi melonjak dari 42,6 persen menjadi 59 persen pada periode yang sama.
