Belakangan ini, istilah “mokondo” semakin sering seliweran di media sosial. Istilah ini merujuk pada laki-laki yang hanya mengandalkan modal fisik tanpa mau memberikan kontribusi nyata, baik secara finansial, emosional, maupun tanggung jawab dalam sebuah hubungan.
Menjalin hubungan dengan pria tipe ini bukan hanya menguras dompet, tapi juga menguras kesehatan mental. Agar kamu tidak terjebak dalam hubungan yang “berat sebelah,” berikut adalah panduan kurasi pasangan agar terhindar dari jeratan laki-laki parasit.
1. Perhatikan Inisiatif di Kencan Pertama
Kencan pertama adalah screening awal yang paling krusial. Tidak harus makan di restoran mewah, namun perhatikan bagaimana ia mengatur rencana.
- Waspada jika: Ia selalu membiarkan kamu yang menentukan tempat, memesan transportasi, bahkan sengaja “lupa” membawa dompet saat tagihan datang.
- Golden Rule: Laki-laki yang punya harga diri akan menunjukkan usaha (effort) untuk setidaknya menawarkan diri membayar atau membagi tagihan secara adil (split bill), bukan pasif menunggu dibayari.
2. Bedakan “Sedang Berjuang” dengan “Memang Malas”
Ada perbedaan tipis antara pria yang sedang merintis karier dengan pria yang memang tidak punya ambisi.
- Pria Berjuang: Memiliki rencana kerja yang jelas, disiplin, dan malu jika terus-menerus merepotkan pasangan.
- Pria Mokondo: Sering mengeluh tentang nasib tapi tidak ada tindakan nyata, betah menganggur dalam waktu lama tanpa alasan medis, dan merasa “nyaman” hidup di atas fasilitas orang lain.
3. Amati Pola Komunikasi (The “Sob Story” Trap)
Hati-hati dengan pria yang hobi menjual cerita sedih atau victim mentality. Strategi ini sering digunakan untuk memicu rasa iba pasangan agar mau meminjamkan uang atau memberikan fasilitas. Jika ia lebih sering membicarakan kesulitan finansialnya daripada cara menyelesaikannya, itu adalah sinyal bahaya.
4. Uji dengan “No” Policy
Sekali-kali, cobalah untuk berkata “tidak” saat ia meminta bantuan yang bersifat materi atau fasilitas.
- Laki-laki yang tulus akan menghargai batasanmu.
- Laki-laki mokondo biasanya akan langsung berubah sikap, menjadi dingin, atau justru melakukan guilt-tripping (membuatmu merasa bersalah) agar kamu kembali menuruti kemauannya.
5. Pentingnya Memiliki Standar dan Batasan (Boundaries)
Jangan takut disebut “materialistis”. Memastikan pasangan memiliki kemandirian finansial dan etos kerja adalah bentuk self-love. Hubungan yang sehat adalah tentang kemitraan (partnership), di mana kedua belah pihak saling memberi dan menerima.
Kesimpulan: Cinta memang butuh pengorbanan, tapi pengorbanan tidak seharusnya berjalan satu arah. Jangan biarkan empati kamu dimanfaatkan oleh orang yang hanya ingin “numpang hidup”. Ingat, kamu adalah pasangan, bukan yayasan donasi.
Stay smart and stay classy, Ladies!
