Prabowo Subianta saat Open Mic atau Berpidato
Jakarta — Pasar keuangan domestik pada perdagangan kemarin, Kamis (13/8/2026), ditutup bervariasi. Bursa saham dalam negeri tertekan cukup dalam menyusul pengumuman rebalancing indeks MSCI, sementara nilai tukar rupiah dan Surat Berharga Negara (SBN) justru kompak mencatatkan penguatan di tengah antisipasi pasar terhadap Sidang Tahunan MPR dan Nota Keuangan.
Kini, fokus investor domestik tertuju sepenuhnya pada arah kebijakan strategis yang akan disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan hari ini di Gedung DPR RI.
IHSG Nyaris Parkir di Level 6.200-an Terdampak MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan pada penutupan perdagangan kemarin. IHSG merosot 72,08 poin atau 1,13% dan parkir di level 6.301,77, nyaris tergelincir ke kisaran level 6.200.
Sepanjang sesi, pergerakan indeks sempat mencatatkan level tertinggi di 6.390,33 sebelum tekanan jual masif membawa IHSG menyentuh titik terendah di 6.281,57. Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan mencakup 186 saham menguat, 474 saham melemah, dan 303 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp13,61 triliun dari 26,78 miliar saham yang diperjualbelikan.
Tekanan kian terasa akibat aksi jual bersih (net foreign outflow) investor asing yang tercatat sebesar Rp1,41 triliun di seluruh pasar, menjadikan total outflow year-to-date membengkak menjadi Rp71,84 triliun.
- Saham Penekan Utama (Laggards): PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor negatif terbesar dengan menekan indeks 7,48 poin, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 7,14 poin, serta duo Barito Group yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
- Saham Penopang (Leaders): Di sisi lain, beberapa saham berkapitalisasi menengah-kecil mencoba menahan kejatuhan lebih dalam, dipimpin oleh PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) yang menyumbang 1,91 poin dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 1,56 poin.
- Kinerja Sektoral: Sektor bahan baku menjadi biang keladi pelemahan terdalam dengan kejatuhan 3,18%, disusul sektor utilitas (-2,62%) dan energi (-1,28%). Hanya segelintir sektor yang mampu bertahan di zona hijau, seperti properti (+0,24%) dan teknologi (+0,08%).
Koreksi tajam ini dipicu oleh pengumuman review bulanan MSCI. Tidak ada satupun saham Indonesia yang masuk dalam MSCI Global Standard Indexes. Sebaliknya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) didepak dari MSCI Indonesia Investable Market Index, sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun kasta ke Global Small Cap bersama sembilan emiten lainnya yang resmi dikeluarkan dari indeks tersebut.
Rupiah dan SBN Menguat Berkat Pelonggaran Inflasi AS
Berbeda dengan bursa saham, mata uang Garuda berhasil melepaskan diri dari tekanan dan ditutup menguat tipis 0,03% ke level Rp17.860/US$ berdasarkan data Refinitiv. Penguatan ini sekaligus memutus tren koreksi yang dialami rupiah dalam dua hari perdagangan sebelumnya.
Pemulihan rupiah ini turut ditopang oleh pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) yang melandai ke level 99,98. Sentimen eksternal ini datang setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan inflasi. Inflasi tahunan AS turun ke level 3,4% pada Juli, sementara inflasi inti melandai ke 2,5%. Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi agresivitas kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Senada dengan rupiah, pasar obligasi domestik juga kebanjiran peminat. Imbal hasil (yield) SBN acuan tenor 10 tahun turun ke level 7,151%, dibandingkan posisi hari sebelumnya di 7,226%, yang menunjukkan tingginya aksi beli oleh investor di pasar sekunder.
Wall Street Cetak Rekor dan Minyak Mentah Merosot
Dari bursa global, Wall Street justru kompak ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks S&P 500 mencetak rekor intraday dan rekor penutupan tertinggi baru untuk pertama kalinya menembus level 7.798,99 (naik 0,65%). Nasdaq Composite juga melesat 0,81%, sementara Dow Jones Industrial Average menguat tipis 0,13%.
Kenaikan bursa saham AS didukung oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) Juli yang tercatat datar (0% secara bulanan), memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi global mulai mereda.
Kendati demikian, pasar komoditas energi justru terpukul. Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 2%. Kontrak berjangka Brent ditutup melemah di level US$87,07 per barel dan WTI merosot ke US$81,25 per barel di tengah kekhawatiran investor terhadap dinamika permintaan global dan situasi geopolitik yang masih memanas.
