Selebrasi Olise dan Doue saat Prancis mengalahkan Belgia di UEFA Nation League
BIDIKMASSA — Stadion de France menjadi saksi bisu dari salah satu drama sepak bola paling memikat dalam ajang UEFA Nations League 2026. Menjamu rival abadi mereka, Belgia, pada matchday keempat Grup A1, Selasa pagi WIB (6/10), tim nasional Prancis sempat berada di ujung tanduk sebelum akhirnya bangkit secara spektakuler dan menutup pertandingan dengan kemenangan meyakinkan 4-1.
Hasil positif ini tidak hanya mengukuhkan dominasi Les Bleus atas tetangga utara mereka, tetapi juga semakin memantapkan posisi Prancis di puncak klasemen sementara Grup A1 dengan raihan 10 poin dari empat pertandingan. Sebaliknya, kekalahan pahit ini membuat De Rode Duivels harus rela turun ke peringkat ketiga, tergusur oleh Italia yang pada saat bersamaan sukses mengandaskan perlawanan Turkiye dengan skor 3-1.
Babak Pertama: Pertahanan Rapat Belgia Bikin Frustrasi
Sejak peluit kick-off dibunyikan oleh pengadil lapangan, Prancis langsung mengambil inisiatif menyerang. Di bawah arahan sang legenda hidup sekaligus juru taktik anyar, Zinedine Zidane, Les Bleus langsung memperagakan permainan penguasaan bola yang dominan. Baru dua menit laga berjalan, Ousmane Dembele sudah memberikan sinyal bahaya lewat tembakan keras dari sisi kanan kotak penalti, meski bola masih melambung tinggi di atas mistar gawang yang dikawal oleh Maarten Vandevoordt.
Tiga menit berselang, giliran Bradley Barcola yang menebar ancaman. Menerima sodoran matang dari Maghnes Akliouche, penyerang muda itu mencoba melepaskan tembakan, namun lini belakang Belgia dengan sigap melakukanintersepsi krusial. Manu Kone, yang diplot sebagai motor penggerak lini tengah, tampil luar biasa kreatif dengan menciptakan setidaknya tiga peluang matang dalam 25 menit pertama pertandingan.
Namun, disiplin tinggi yang diterapkan oleh pelatih Belgia, Mark van Bommel, terbukti menyulitkan. Pertahanan rapat berlapis yang digalang oleh barisan belakang Belgia sukses meredam setiap gelombang serangan tuan rumah. Di sisi lain, Belgia tidak tinggal diam dan sesekali melancarkan serangan balik yang mematikan.
Pada menit ke-11, penyerang berpengalaman Romelu Lukaku sempat lolos dari kawalan setelah melewati beberapa pemain belakang Prancis. Sayang, tembakan jarak jauhnya masih dapat diamankan dengan baik oleh penjaga gawang debutan Prancis, Thibalt Restes.
Petaka bagi publik tuan rumah akhirnya hadir pada menit ke-35. Berawal dari keberhasilan Romeo Lavia merebut bola di area pertahanannya sendiri, gelandang muda berbakat itu melepaskan sebuah umpan terobosan jarak jauh yang sangat akurat, membelah pertahanan Prancis yang lengah. Dodi Lukebakio yang berdiri bebas langsung berlari kencang menyambut bola, merangsek ke kotak penalti, dan melepaskan tembakan kaki kiri terarah yang bersarang di pojok atas gawang Restes. Skor 1-0 untuk keunggulan tim tamu bertahan hingga turun minum, memaksa Zidane memutar otak di ruang ganti.
Babak Kedua dan Maestro Perubahan Taktik Zidane
Memasuki paruh kedua, intensitas permainan meningkat drastis. Prancis tampil jauh lebih agresif demi mencari gol penyeimbang. Pada menit ke-53, sebuah tembakan melengkung dilepaskan oleh Manu Kone, yang sempat membentur badan Romeo Lavia sebelum jatuh di kaki Ousmane Dembele. Namun, sang kapten gagal memanfaatkan peluang emas tersebut setelah sepakannya melebar tipis dari sasaran.
Menyadari kebuntuan masih belum pecah, Zinedine Zidane melakukan sebuah langkah judi taktik yang berani pada menit ke-60. Pelatih peraih trofi Liga Champions itu memasukkan tiga tenaga segar sekaligus: Michael Olise, Rayan Cherki, dan Lucas Da Cunha, untuk menggantikan Ousmane Dembele, Maghnes Akliouche, dan Manu Kone. Tak lama kemudian, pada menit ke-72, penyerang lincah Paris Saint-Germain (PSG), Desire Doue, turut diturunkan untuk menggantikan Bradley Barcola.
Pergantian massal ini terbukti menjadi titik balik mutlak (turning point) jalannya pertandingan. Kecepatan, kreativitas, dan daya gedor lini serang Prancis langsung berlipat ganda, membuat pertahanan Belgia mulai kewalahan menghadapi tekanan bertubi-tubi.
Gol yang dinanti-nantikan publik Stade de France akhirnya tercipta pada menit ke-77. Lucas Da Cunha mengirimkan umpan pendek yang diterima dengan baik oleh Desire Doue di depan kotak penalti. Dengan gerakan memutar badan yang cerdik, Doue melepaskan tembakan kaki kiri akurat yang meluncur mulus melewati sela-sela kaki gelandang veteran Hans Vanaken, bersarang telak di pojok bawah gawang Belgia. Skor berubah menjadi 1-1, memantik gemuruh penonton tuan rumah.
Gol penyama kedudukan itu bagaikan suntikan moril luar biasa bagi Les Bleus. Hanya berselang empat menit kemudian, Prancis sukses membalikkan keadaan. Michael Olise, yang tampil luar biasa sepanjang babak kedua, menerima umpan panjang, menggiring bola ke sisi kanan lapangan, dan melewati bek Joaquin Seys sebelum mengirimkan operan matang kepada Rayan Cherki. Tanpa membuang waktu, Cherki melepaskan tembakan kaki kiri yang sempat membentur kiper Vandevoordt sebelum masuk ke dalam gawang. Prancis unggul 2-1 dan momentum sepenuhnya berada di tangan mereka.
Pesta Gol di Menit-Menit Akhir
Tertinggal dalam tempo singkat membuat mental skuad Belgia runtuh. Mereka mencoba keluar menyerang untuk mencari gol balasan, namun justru meninggalkan celah menganga di lini belakang yang berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh para bintang muda Prancis.
Pada menit ke-88, kombinasi mematikan antara Desire Doue dan Michael Olise kembali membuahkan hasil. Setelah menerima umpan balik dari Doue, Olise melepaskan tendangan kaki kanan terukur ke pojok jauh gawang yang tak mampu dijangkau oleh penjaga gawang Belgia, mengubah kedudukan menjadi 3-1.
Pesta kemenangan Prancis ditutup pada menit ke-91 saat injury time. Rayan Cherki memberikan umpan terobosan cerdas kepada Desire Doue, yang kemudian meneruskannya kepada Olise. Bintang Bayern Munchen tersebut dengan tenang mencetak gol keduanya malam itu, sekaligus memastikan kemenangan telak 4-1 bagi Prancis.
Komentar Pascapertandingan
Selepas laga, Michael Olise yang dinobatkan sebagai pahlawan kemenangan berkat torehan brace-nya memberikan pandangannya kepada media Prancis, TF1.
“Menurutku kami bermain bagus di akhir pertandingan,” ungkap Olise. “Babak pertama terasa sangat sulit. Menghadapi lawan dengan pertahanan yang rapat selalu menjadi tantangan tersendiri. Tetapi kami terus berjuang, tidak pernah menyerah, dan hasilnya luar biasa pada akhirnya,” lanjut pemain bernomor tajam tersebut.
Sementara itu, pelatih kepala Prancis, Zinedine Zidane, mengakui bahwa timnya sempat mengalami frustrasi berat dalam membongkar lini pertahanan Belgia hingga laga memasuki 15 menit terakhir babak kedua.
“Gol pertama itulah yang memungkinkan kami untuk mendapatkan kembali kendali penuh dalam permainan,” kata Zidane dalam konferensi pers pascapertandingan. “Bahkan di babak pertama, kami memulai dengan cukup baik, tetapi kami sedikit kurang cepat dan kurang tajam di sepertiga akhir lapangan.”
Mantan pelatih Real Madrid itu juga memuji mentalitas anak asuhnya yang pantang menyerah. “Menurutku, jika Anda melihat keseluruhan 90 menit secara objektif, kemenangan ini sangat pantas kami dapatkan. Dan penampilan luar biasa di babak kedua membuktikan kualitas mental tim ini,” pungkasnya.
Dengan hasil gemilang ini, Prancis tidak hanya memperpanjang rekor dominasi atas Belgia di ajang UEFA Nations League, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada seluruh kontestan Eropa bahwa generasi baru Les Bleus berada dalam jalur yang tepat untuk mendominasi sepak bola internasional.
Susunan Pemain:
Prancis (4-3-3): 1-Thibalt Restes (GK); 5-Jules Kounde, 15-Leny Yoro, 17-Maxime Lacroix, 13-Andy Diouf; 18-Maghnes Akliouche (60′ Michael Olise), 8-Manu Kone (60′ Lucas Da Cunha), 6-Eduardo Camavinga; 7-Ousmane Dembele (C) (60′ Rayan Cherki), 19-Alan Lepaul, 12-Bradley Barcola (72′ Desire Doue)
Pelatih: Zinedine Zidane
Belgia (4-3-3): 12-Mike Penders / Senne Lammens / Mike Vandevoordt (GK); 21-Timothy Castagne, 15-Noah Ngoy, 4-Brandon Mechele, 18-Joaquin Seys; 23-Nicolas Raskin, 6-Romeo Lavia, 20-Hans Vanaken; 14-Dodi Lukebakio, 9-Romelu Lukaku (C), 19-Stanis Idumbo-Muzambo / Johan Bakayoko / (pemain pengganti lainnya / Moriera)
Pelatih: Mark van Bommel
