"Sell Indonesia" di berbagai forum global
JAKARTA, 9 Juni 2026 – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Senin (8/6). Rupiah terdepresiasi ke level Rp18.188 per dolar AS, sementara IHSG anjlok 252,63 poin (4,52%) ke posisi 5.342. Menanggapi situasi ini, pemerintah meminta pasar tidak panik dan menegaskan bahwa kondisi fiskal nasional tetap berada dalam koridor yang sehat.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik belakangan ini diperparah oleh munculnya sentimen “Sell Indonesia” yang diangkat oleh sejumlah media ekonomi internasional. Istilah ini merujuk pada strategi investor global yang memilih untuk mengurangi atau melepas aset-aset berbasis rupiah seperti saham dan obligasi guna meminimalisasi risiko.
Akar Sentimen “Sell Indonesia”
Perubahan peta sentimen investor asing ini dipicu oleh beberapa dinamika ekonomi dan politik, di antaranya:
- Ketegangan Geopolitik global: Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran serta koalisi AS-Israel telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang secara langsung menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
- Kekhawatiran Keberlanjutan Fiskal: Pasar mencermati realisasi target pertumbuhan ekonomi 8% di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program skala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan dana Danantara menimbulkan spekulasi di kalangan investor terkait sumber pendanaan dan potensi pembengkakan defisit anggaran.
- Peringatan Posisi Pasar oleh MSCI: Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberikan sinyal peringatan potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Hal ini disebabkan oleh rendahnya jumlah saham yang beredar di publik (free float) karena mayoritas kepemilikan masih terpusat pada kelompok pendiri atau konglomerasi.
- Transisi Otoritas Fiskal: Pasca-keluarnya Sri Mulyani Indrawati dari kabinet pada tahun 2025 yang selama ini dianggap investor global sebagai jangkar disiplin fiskal Indonesia, pasar masih terus beradaptasi dengan arah kebijakan baru.
Pemerintah Optimis, Pastikan Kondisi Jauh dari Krisis 1998
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis keras narasi negatif yang berkembang di media asing. Menurutnya, analisis yang memicu tren “Sell Indonesia” tersebut tidak akurat dan tidak mencerminkan realitas fundamental ekonomi nasional.
“Fiskal kita dalam kondisi baik dan pertumbuhan ekonomi justru menunjukkan tren yang positif. Kita sama sekali tidak sedang mengarah pada situasi krisis seperti tahun 1998,” ujar Menkeu Purbaya saat melakukan peninjauan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Sebagai langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan pasar, Kementerian Keuangan sengaja mempercepat publikasi laporan realisasi APBN (APBNKita). Langkah transparansi ini diambil agar pelaku pasar dapat melihat data makroekonomi Indonesia secara riil dan objektif.
Pemerintah memproyeksikan sentimen negatif ini bersifat temporer. Guna meredam volatilitas nilai tukar, Kementerian Keuangan berkomunikasi secara intensif dan memperkuat sinergi kebijakan dengan Bank Indonesia (BI).
